Advertisement

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PERGURUAN TINGGI BERBASIS KARAKTER DI ERA DISRUPSI

 oleh : Fenty Ramadhanti

Tema utama  adalah kewirausahaan yang mengacu pada bidang pendidikan, perekonomian dan teknologi. Karena jika dilihat dari judul “Pendidikan Kewirausahawan Perguruan Tinggi  Berbasis Karakter di Era Dirupsi” dan secara keseluruhan membahas tentang kewirausahaan,
beberapa bukti dukungan teori :


·       Bidang Pendidikan kewirausahaan
Kewirausahaan menempati peran penting dalam merespon revolusi industri 4.0. Saat ini,  kewirausahaan menjadi tren dunia, paling tidak dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini tercemin dari jejak digital kata “entrepreneurship” yang selalu di baris paling atas pada mesin pencari google. Jika kita search kata entrepreneurship di google, maka akan ditemukan hasil pencarian sebanyak 142 juta dokumen. Dan bila kita mencari kata yang sama di ranah kajian ilmiah (google cendekia/scholar), maka akan ditemukan sebanyak 1.580.000 hasil. Belajar kewirausahaan tidak lagi tersekat ruang kuliah karena google play store menyediakan setidaknya 200-an aplikasi pembelajaran kewirausahaan.  Selain karena amat terkenal, ilustrasi saya di atas mengandung makna bahwa dengan kemajuan teknologi, belajar tentang kewirausahaan dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun; tidak harus diperoleh pada lembaga pendidikan formal dan non formal. 
 
·       Bidang teknologi
Revolusi industri 4.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyakat. Revolusi industri 4.0 merupakan kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, yang mengubah cara hidup kerja manusia secara fundamental. Pada Sektor bisnis, misalnya kemajuan dalam daya komputasi, kecerdasan buatan, robotik, dan ilmu material dapat mempercepat pergeseran menuju produk yang lebih ramah lingkungan,  lebih cepat, mudah dan murah (Schwab, 2016). 
Kemajuan teknologi digital telah merubah tatatan bisnis baik sisi permintaan maupun penawaran. Dari sisi permintaan, kemajuan teknologi digital menawarkan kemudahan kepada konsumen dalam melakukan beragam aktivitas sehari-hari seperti berkomunikasi, membeli barang, memesan tiket, hingga bertransaksi hanya dengan menggunakan gawai. Dari sisi penawaran, akibat perubahan pola perilaku konsumen, mendorong produsen untuk mentransformasi proses produksi hingga distribusi menjadi berbasis digital. Kondisi ini melahirkan platform baru dalam dunia bisnis, semisal sharing economy, on demand economy, blockchain, digital market place dan e-commerce
Platform bisnis baru ini melahirkan perusahaan-perusahaan digital sekelas Google, Amazon, Alibaba, Facebook, Twitter, YouTube, Uber, Airbnb, Salesforce, Snapchat, Instagram, WhatsApp, Spotify, WeChat, GoJek, Bukalapak, Traveloka, dan Tokopedia.


·       Bidang ekonomi
Di era ekonomi digital, valuasi pasar perusahaan aplikasi digital ini mengalahkan perusahaan-perusahaan raksasa konvensional yang telah lama berdiri, semisal Toyota (1937) dan Boeing (1916). Pada tahun 2018, misalnya nilai kapitalisasi pasar Facebook yang didirikan tahun  2004, misalnya menembus angka Rp. 4000 triliun atau sepuluh kali lipat dibandingkan nilai pasar Toyota atau Boeing. Di Indonesia, valuasi Gojek dihargai oleh para investornya senilai Rp 75 triliun,  sebuah angka yang fantastis untuk perusahaan yang baru berdiri tahun 2010. Sementara valuasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang didirikan tahun 1949 hanya bernilai Rp 6 triliun (Yodhia, 2018). Investor masa kini lebih mempertimbangkan aset tak berwujud (intangible assets) seperti inovasi dan penguasaan teknologi dibandingkan aset berwujud (tangible assests) berupa gedung/ pabrik, tanah dan peralatan.


Kesimpulan
Pada era revolusi industri 4.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyakat. Revolusi industri 4.0 merupakan kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, yang mengubah cara hidup kerja manusia secara fundamental namun Pada tataran praksis dan berdasar pengalaman mengampu mata kuliah kewirausahaan selama 20 tahun, pengembangan pendidikan kewirausahaan menghadapi beragam tantangan sebagai berikut:  
Pertama, tenaga pendidik baik guru maupun dosen tidak memiliki kompetensi dan pengalaman sebagai entrepreneur sehingga konsep yang diajarkan terlalu fokus pada bagaimana merintis dan mengelola usaha – aspek kognitif.
Kedua, pendidikan kewirausahaan tidak diajarkan secara integratif dan tematik. Artinya, mata pelajaran/kuliah kewirausahaan diajarkan terpisah.  Seharusnya filosofi dan nilai-nilai kewirausahaan  diintegrasikan pada apapun mata pelajaran/ kuliah secara tematik sebagai bagian dari pendidikan
Ketiga, pimpinan satuan pendidikan tidak selalu memberikan ruang gerak bagi suburnya benih-benih kewirausahaan. Mindset mereka sebagai birokrat sering kali menutup rapat potensi kreativitas dan inovasi warga belajar.. 
Keempat, pendidikan kewirausahaan saat ini belum mampu dijadikan landasan bagi penguatan ketrampilan hidup (life skills) bagi anak
Kelima, pada jenjang perguruan tinggi masih minim jumlah perusahaan yang mau bermitra dengan lembaga pendidikan tinggi untuk mencetak wirausaha baru melalui pendirian inkubator bisnis
Keenam, pembelajaran kewirausahaan harus diperkaya dengan beragam metode pembelajaran disesuaikan tuntutan era disrupsi.
Ketrampilan dalam menjalankan perusahaan (enterprising skill) tidak hanya meliputi mengusulkan ide-ide baru, mengidentifikasikan peluang, namun juga mencakup hal yang lebih luas yaitu penerapan kemampuan emosi, intelektual, sosial dan teknis. Oleh karena itu pendidikan bisnis juga diharapkan dapat membangun ketrampilan dan intuisi dalam pengambilan keputusan, kerjasama dalam tim, membangun jaringan, pemecahan masalah secara kreatif, inovatif, kemampuan berpikir strategik, dan kemampuan menyelesaikan tugas sesuai dengan target.
Kurikulum pendidikan kewirausahaan berbasis karakter tidak akan efektif tanpa diimbangi pembelajaran di luar kurikulum. Pendidikan kewirausahaan dalam konteks di luar kurikulum dilakukan dengan membangun atmosfer akademik dalam menumbuhkembangkan budaya kewirausahaan di lingkungan universitas maupun fakultas. Hal ini merupakan bagian dari pembentukan karakter wirausaha, khususnya yang ditujukan bagi mahasiswa. Tahapan pembentukan karakter wirausaha bagi mahasiswa dapat dirangkum dalam berbagai kegiatan yang bersifat adaptif dan kompetitif. Merespon tantangan revolusi industri 4.0, pendidikan kewirausahaan harus diarahkan untuk mampu meningkatan literasi data dan digital.
Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah upaya pemberdayaan organisasi kemahasiswaan. Untuk menciptakan iklim berwirausaha yang kondusif, fakultas dan universitas merevitalisasi fungsi unit kegiatan mahasiswa dan menjalin kerjasama dengan pihak eksternal sebagai upaya menanamkan jiwa berwirausaha. Pelibatan organisasi kemahasiswaan dalam mengembangkan semangat kewirausahaan dapat pula dilaksanakan melalui pembentukan entrepreneur club


Dengan memperhatikan beberapa aspek yang diadaptasi dari Clark (2004), kampus harus membangun; 1) Kepemimpinan yang kuat (steering core) pada semua aras organisasi, 2) Pengembangan jejaring kerjasama (expanded developmental pheripery) dengan beragam pengampu kepentingan, 3) Melakukan diversifikasi sumber pendanaan universitas (diversified funding base), 4) Penguatan bisnis inti berbasis akademik (stimulated academic heartland), dan 5) Internalisasi budaya kewirausahaan (integrated entrepreneurial culture). Jika kelima komponen entrepreneurial university dilaksanakan secara konsisten, maka eko-sistem kewirausahaan dapat direalisasikan secara nyata. Dengan demikian, pendidikan kewirausahaan yang diselenggarakan baik melalui kurikulum maupun kegiatan di luar kurikulum diharapkan tidak hanya meningkatkan intensi mahasiswa dalam berwirausaha, tetapi juga membangun karakter, serta membentuk perilaku berwirausaha.
 

sobat dunia.kampus

Komentar

iklan