oleh : Fenty Ramadhanti
Tema
utama adalah kewirausahaan yang mengacu pada bidang pendidikan,
perekonomian dan teknologi. Karena jika dilihat dari judul “Pendidikan
Kewirausahawan Perguruan Tinggi Berbasis
Karakter di Era Dirupsi” dan secara keseluruhan membahas tentang kewirausahaan,
beberapa
bukti dukungan teori :
·
Bidang Pendidikan kewirausahaan
Kemajuan teknologi digital telah merubah tatatan bisnis baik sisi
permintaan maupun penawaran. Dari sisi permintaan, kemajuan teknologi digital
menawarkan kemudahan kepada konsumen dalam melakukan beragam aktivitas
sehari-hari seperti berkomunikasi, membeli barang, memesan tiket, hingga
bertransaksi hanya dengan menggunakan gawai. Dari sisi penawaran, akibat
perubahan pola perilaku konsumen, mendorong produsen untuk mentransformasi
proses produksi hingga distribusi menjadi berbasis digital. Kondisi ini melahirkan
platform baru dalam dunia bisnis, semisal sharing economy, on demand
economy, blockchain, digital market place dan e-commerce.
Platform bisnis baru ini melahirkan perusahaan-perusahaan digital
sekelas Google, Amazon, Alibaba, Facebook, Twitter, YouTube, Uber, Airbnb,
Salesforce, Snapchat, Instagram, WhatsApp, Spotify, WeChat, GoJek,
Bukalapak, Traveloka, dan Tokopedia.
Kesimpulan
Pada era revolusi industri 4.0 membawa perubahan besar
dalam kehidupan masyakat. Revolusi industri 4.0 merupakan kemajuan teknologi
baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, yang mengubah
cara hidup kerja manusia secara fundamental namun Pada tataran praksis dan
berdasar pengalaman mengampu mata kuliah kewirausahaan selama 20 tahun,
pengembangan pendidikan kewirausahaan menghadapi beragam tantangan sebagai
berikut:
Pertama,
tenaga pendidik baik guru maupun dosen tidak memiliki kompetensi dan pengalaman
sebagai entrepreneur sehingga konsep yang diajarkan terlalu fokus pada
bagaimana merintis dan mengelola usaha – aspek kognitif.
Kedua,
pendidikan kewirausahaan tidak diajarkan secara integratif dan tematik.
Artinya, mata pelajaran/kuliah kewirausahaan diajarkan terpisah.
Seharusnya filosofi dan nilai-nilai kewirausahaan diintegrasikan pada
apapun mata pelajaran/ kuliah secara tematik sebagai bagian dari pendidikan
Ketiga,
pimpinan satuan pendidikan tidak selalu memberikan ruang gerak bagi suburnya
benih-benih kewirausahaan. Mindset mereka sebagai birokrat sering kali
menutup rapat potensi kreativitas dan inovasi warga belajar..
Keempat,
pendidikan kewirausahaan saat ini belum mampu dijadikan landasan bagi penguatan
ketrampilan hidup (life skills) bagi anak
Kelima,
pada jenjang perguruan tinggi masih minim jumlah perusahaan yang mau bermitra
dengan lembaga pendidikan tinggi untuk mencetak wirausaha baru melalui
pendirian inkubator bisnis
Keenam,
pembelajaran kewirausahaan harus diperkaya dengan beragam metode pembelajaran
disesuaikan tuntutan era disrupsi.
Kurikulum pendidikan kewirausahaan berbasis karakter tidak
akan efektif tanpa diimbangi pembelajaran di luar kurikulum. Pendidikan
kewirausahaan dalam konteks di luar kurikulum dilakukan dengan membangun
atmosfer akademik dalam menumbuhkembangkan budaya kewirausahaan di lingkungan
universitas maupun fakultas. Hal ini merupakan bagian dari pembentukan karakter
wirausaha, khususnya yang ditujukan bagi mahasiswa. Tahapan pembentukan
karakter wirausaha bagi mahasiswa dapat dirangkum dalam berbagai kegiatan yang
bersifat adaptif dan kompetitif. Merespon tantangan revolusi industri 4.0,
pendidikan kewirausahaan harus diarahkan untuk mampu meningkatan literasi data
dan digital.
Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah upaya
pemberdayaan organisasi kemahasiswaan. Untuk menciptakan iklim berwirausaha
yang kondusif, fakultas dan universitas merevitalisasi fungsi unit kegiatan
mahasiswa dan menjalin kerjasama dengan pihak eksternal sebagai upaya
menanamkan jiwa berwirausaha. Pelibatan organisasi kemahasiswaan dalam
mengembangkan semangat kewirausahaan dapat pula dilaksanakan melalui
pembentukan entrepreneur club.
Dengan memperhatikan beberapa aspek yang diadaptasi dari
Clark (2004), kampus harus membangun; 1) Kepemimpinan yang kuat (steering
core) pada semua aras organisasi, 2) Pengembangan jejaring kerjasama
(expanded developmental pheripery) dengan beragam pengampu kepentingan,
3) Melakukan diversifikasi sumber pendanaan universitas (diversified
funding base), 4) Penguatan bisnis inti berbasis akademik (stimulated
academic heartland), dan 5) Internalisasi budaya kewirausahaan (integrated
entrepreneurial culture). Jika kelima komponen entrepreneurial
university dilaksanakan secara konsisten, maka eko-sistem kewirausahaan
dapat direalisasikan secara nyata. Dengan demikian, pendidikan kewirausahaan
yang diselenggarakan baik melalui kurikulum maupun kegiatan di luar kurikulum
diharapkan tidak hanya meningkatkan intensi mahasiswa dalam berwirausaha,
tetapi juga membangun karakter, serta membentuk perilaku berwirausaha.

Komentar
Posting Komentar